Okupasi Terapi atau OT Apa ya?
nah penjellasan singkat tentang OT
Ilmu okupasi terapi adalah salah satu disiplin ilmu yang mempelajari tentang manusia, baik secara fisik maupun mental. Ini menurut versi saya. Di dalam okupasi terapi ada tiga area yang di perhatikan. Area produktifitas, area self care atau perawatan diri, area leisure atau pemanfaatan waktu luang. Masing-masing tiga area tersebut akan penulis jelaskan pada laman-laman yang sudah ada. Jadi seorang okupasi terapis saat pertama kali melihat klien maka ia akan melihat pada ketiga area tersebut.
Ookupasi terapis memberikan bantuan pada orang yang memiliki hendaya fisik, sensori dan gangguan kognitif, dengan cara menitikberatkan pada tiga area sebagaimana yang sudah saya singgung diatas yang bertujuan agar individu lebih mandiri. Okupasi terapi bergerak di semua lini, mulai dari bayi hingga manula tentunya dengan metode dan kerangka acuan yang sesuai dengan kasus yang dihadapi.
Ruang lingkup okupasi terapi tidak hanya di rumah sakit atau klinik semata, melainkan bisa mencakup area yang lebih luas lagi. Okupasi terapi bisa masuk di area sekolah (area penddikan) terutama anak PAUD atau TK untuk melihat perkembangan dan kemampuan anak di usianya pada saat itu, karena ini akan mempengaruhi proses belajarnya kelak. Ini masuk pada area pediatri (anak-anak).
Tujuan Terapi Okupasi
Adapun tujuan terapi okupasi menurut Riyadi dan Purwanto (2009), adalah:
Terapi Okupasi
Terapi Okupasi Tidak Perlu Mahal (Misalnya, Belajar Menggunting dengan Gunting Kertas yang Aman Bagi Anak)
1. Terapi khusus untuk pasien mental/ jiwa.
(a). Menciptakan suatu kondisi tertentu sehingga pasien dapat mengembangkan kemampuannya untuk dapat berhubungan dengan orang lain dan masyarakat sekitarnya.
(b) Membantu dalam melampiaskan gerakan-gerakan emosi secara wajar dan produktif.
(c) Membantu menemukan kemampuan kerja yang sesuai dengan bakat dan keadaannya.
(d) Membantu dalam pengumpulan data guna penegakan diagnose dan penetapan terapi lainnya.
2. Terapi khusus untuk mengembalikan fungsi fisik, meningkatkan ruang gerak sendi, kekuatan otot dan koordinasi gerakan.
3. Mengajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti makan, berpakaian, belajar menggunakan fasilitas umum (telpon, televisi, dan lain-lain), baik dengan maupun tanpa alat bantu, mandi yang bersih, dan lain-lain.
4. Membantu pasien untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan rutin di rumahnya, dan memberi saran penyederhanaan (simplifikasi) ruangan maupun letak alat-alat kebutuhan sehari-hari.
5. Meningkatkan toleransi kerja, memelihara dan meningkatkan kemampuan yang masih ada.
6. Menyediakan berbagai macam kegiatan untuk dijajaki oleh pasien sebagai langkah dalam pre-vocational training. Dari aktivitas ini akan dapat diketahui kemampuan mental dan fisik, kebiasaan kerja, sosialisasi, minat, potensi dan lain-lainnya dari si pasien dalam mengarahkannya ke pekerjaan yang tepat dalam latihan kerja.
7. Membantu penderita untuk menerima kenyataan dan menggunakan waktu selama masa rawat dengan berguna.
8. Mengarahkan minat dan hobi agar dapat digunakan setelah kembali ke keluarga.
Referensi
Sujono Riyadi dan Teguh Purwanto. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Graha Ilmu. 2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar